Tujuan Politik Jepang
Pada tanggal 18 April 1934, juru bicara Departemen luar negeri Jepang yang sejak tanggal 14 September dikepalai oleh Hirota Koki sebagai Menteri Luar Negeri Kabinet Laksamana Saito, telah memberi keterangan mengenai politik Jepang ke Tiongkok dalam hubungan dengan negeri-negeri barat, yaitu antara lain : Jepang selalu berusaha mempertahankan dan memajukan hubungan persahabatan dengan negara-negara asing. Hal ini dilakukannya untuk memegang teguh perdamaian di Asia Timur. Persatuan Tiongkok dan pertahankan kesatuan wilayah Tiongkok serta pemulihan di negeri itu sangat diinginkan oleh Jepang. Maka Jepang menentang suatu percobaan dari pihak Tiongkok untuk mempergunakan pengaruh negeri yang manapun juga untuk melawan Jepang. Selain itu Jepang juga menentang suatu aksi yang dilakukan oleh Tiongkok dengan makhsud mengadudombakan negeri yang satu dengan negeri yang lain. Setiap gerakan bersama yang dilakukan oleh negeri-negeri asing biarpun dengan nama bantuan tekhnis atau keuangan pada saat sesudah peristiwa-peristiwa Manchuria dan Sanghai pasti akan mendapat arti politik. Perbuatan demikian apabila dilakukan sehingga sampai pada akhirnya pasti menimbulkan kesulitan-kesulitan yang akhirnya mungkin perlu adanya pembicaraan soal-soal sebagai pembelaan Tiongkok dan bersamaan dengan itu akan menimbulkan akibat-akibat di Jepang dan Asia Timur.
Memberi Tiongkok pesawat terbang, membangun pangkalan terbang di Tiongkok dan mengirimkan instruktur militer dan angkatan laut serta penasehat militer ke Tiongkok atau mengadakan perjanjian untuk memberikan pinjaman untuk tujuan politik. Hal tersebut jelas akan merenggangkan hubungan persahabatan antara Jepang, Tiongkok dan negeri-negeri lain, serta akan mengganggu perdamaian di Asia Timur.
Pada tahun 1934 menteri luar negeri Hiroto juga mengeluarkan pernyataan demikian. Pada waktu itu Dr. Rachman seorang ahli dari liga bangsa-bangsa sudah mengajukan laporannya pada liga bangsa-bangsa, di Genewa tentang bantuan pada pembangunan Tiongkok. Curtiss Wright Co. Sudah membuat kontrak untuk mendirikan sebuah pabrik pesawat terbang yang akan diusahakan dengan bantuan insinyur Amerika. Sebuah pangkalan terbang sudah dibuat di Hang-Chow dengan sebuah sekolah penerbang-penerbang militer dibawah penilikan seorang kolonel angkatan udara Aemerika Serikat yang telah berhenti. Amerika serikat sudah menjawab pada Tiongkok sejumlah sejumlah pesawat terbang tempur. Sebuah misi udara Italia sudah ditempatkan di markas besar Chiang Kai-Shek.Yang dibiayai dengan uang penggantian kerugian Bokser pada Italia yamg sebagian besar pula dipergunakan untuk mengadakan sebuah pusat penerbangan di Nanchang dan pada bulan April 1934 seorang Jerman, Jendral Van Secckt, dahulu memimpin tentara Jerman sudah diangkat menjadi penasehat militer terutama di Nanking. Lebih jelasnya Jepang suka melihat Tiongkok menjadi kuat tetapi tanpa bantuan negara lain.

Politik Tiga Asas Hirota
Kapal pemerintahan Jepang mulai 8 Juli 1934 kembali dikendalikan oleh seorang laksamana, admiral Okada Keisuke yang menggantikan laksamana Sato Minoru sebagai perdana menteri
Pada tahun 1935 telah diadakan reorganisasi pimpinan tentara yang telah melengserkan Jendral Mazaki Jinzaburo pada 16 Juli. Pada tanggal 12 Agustus Jendral Nagata dibunuh oleh letnan kolonel Aizawa karena dituduh dialah yang bertanggung jawab unruk reorganisasi pimpinan tentara itu.
Pendirian Jepang dipertegaskan oleh Hirota dalam perumusan politik Jepang yang diserahkan kepada duta Tiongkok di Tokyo pada tanggal 25 Oktober 1935. politik itu kemudian di kenal dengan nama “Polotik Tiga Asas” Hirota.
Yang pertama dari ketiga asas itu mengenai perubahan secara pokok hubungan Tiongkok – Jepang dimana Tiongkok harus menghentikan semua perbuatan dengan peraturan yang tidak menyenangkan sampai sebegitu jauh yang telah diambil olehnya. Asas yang ke dua adalah pemulihan hubungan antara Tiongkok – Jepang perlu disertai penertiban hubungan antara Manchukuo dan Tiongkok karena di Tiongkok utara terutama kepentingan kedua negeri ini dan Jepang yang bersangkutan dengan langsung dan erat. Sedangkan asas yang ke tiga adalah keiginan Jepang untuk bekerja sama dengan Tiongkok dalam berbagai cara untuk membasmi komunisme.

Gerakan Otonomi di Tiongkok Utara
Setelah perumusan tiga asas Hirota, pada tanggal 28 Oktober 1935 disampaikan kepada duta Tiongkok di Jepang bahwa Tiongkok utara diberi tuntutan oleh Jepang dengan memberantas kekuasaan Kuo Min-Tang di propinsi-propinsi utara. Akhirnya timbulah keinginan rakyat untuk mengadakan otonomi yang dibentuk pada tanggal 24 November 1935 sebagai pemerintahan otonomi Hopei Timur yang dikuasai oleh Yin Yu Keng dan dikuasai sepenuhnya oleh pembesar-pembesar militer Jepang di Tientsin dan Peking.

Suasana di Tiongkok
Tidakan-tindakan Jepang telah memperbesar semangat anti Jepang di Tiongkok dengan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan di Jepang. Sampai akhirnya Jepang membalas semua perbuatan yang dilakukan oleh Tiongkok dengan memperbesar kekuatan armadanya di perairan Tiongkok dan menduduki daerah Hongkew di Shanghai untuk sementara waktu. Sedangkan tidakan Tiongkok sendiri bekerja sama dengan partai komunis Tiongkok dan berperang melawan Jepang. Dengan begitu terlihat bahwa kekuatan perlawanan Tiongkok yang dihadapi Jepang bertambah besar, karena asmpai begitu jauh yang melawan agresinya hanya tentara kaum komunis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s