Agar suatu karya sejarah memiliki kulifikasi sebagai sejarah kritis seorang sejarawan atau penulis sejarah berusaha melakukan kegiatan ilmiah yang didalamnya terdapat metode-metode. Adapun metode-metode tersebut antar lain :

Heuristik
Adalah kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau.
Dalam heuristik seorang sejarawan melakukan pengumpulan fakta-fakta yang merupakan bahan mentah bagi sejarah. Adapun  fakta-fakta sejarah yang didapatkan oleh sejarawan berupa dokumen, artefak saksi atau pelaku sejarah  dan sebagainya.

Kritik
Setelah proses heuristik dilakukan, langkah kedua dalam prosedur metode sejarah adalah kritik yaitu proses menyelidiki apakah fakta-fakta yang diperoleh benar-benar akurat, baik bentuk maupun isinya. Dalam proses kritik terdapat dua langkah yang harus ditempuh yaitu kritik extern dan kritik intern.
a.kritik ekstern 
kritik ekstern yaitu bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut sumber jejak yang kita butuhkan yaitu:
# Adakah sumber itu memang sumber yang kita kehendaki? Pada bagian ini seorang sejarawan/peneliti sejarah ingin mengetahuai atau berusaha meyakinkan diri ,apakah sumber itu asli atau palsu.
# Adakah sumber itu sesuai dengan aslinya atau tiruanya? Pada bagian ini merupakan menganalisis sumber,terutama yang berkaitan dengan sumber kuno dimana satu-satunya cara untuk memperbanyak atau mengabadikan naskah adalah dengan menyalin. Dalam menyalin ada kemungkinan terjaditerjadi perubahan dari dokomen aslinya.
# Adakah sumber itu utuh atau telah diubah-ubah? Artinya dalam suatu salinan misalnya apakah turunan itu dalam keadaan utuh atau telah berubah-ubah.


b.kritik intern.
kritik intern maksudnya yaitu? bagaimana isi dari sumber yang diperoleh tersebut, apakah relevan atau tidak. Sumber yang diperoleh tadi apakah telah memiliki kredibilitas. Hal ini yang dimaksud kredibilitas adalah sumber yang diperoleh yang memang benar-benar terjadi, atau paling dekat dengan apa yang telah terjadi. Hal-hal yang  perlu dilakukan diantaranya: Hipoitesa atau interogatif yaitu dengan menganalisis sebuah sumber untuk menemukan fakta-fakta, yang dilakukan dengan mendekatinya dengan suatu pertanyaan-pertanyaan yang relatif tidak mengikat.
Dalam hal ini sejarawan berusaha untuk menyeleksi mana sumber primer dan mana yang disebut sumber sekunder. setelah itu sejarawan juga berusaha untuk menunjukkan kebenaran dari sumber-sumber yang diperoleh. Selain itu Sejarawan juga harus memiliki kemampuan untuk menyatakan kebenaran yang ditumpukan pada saksi yang memiliki kedekatan dengan peristiwa.
Ada tiga langkah yang dilakukan untuk menyatakan kedekatan saksi dengan peristiwa. Yaitu: dengan observasi (pengamatan), rekoleksi (pengingatan), dan perekaman (tidak termasuk persepsi sejarawan sendiri mengenai rekaman saksi).

Interpretasi
Interpretasi yaitu dengan menetapkan makna dan keterhubungan dari fakta-fakta yang diperoleh serta menganalisisnya. Dalam menetapakan makna dan kausalitas dari fakta-fakta tersebut. Dalam menganalisisnya, sejarawan berusaha menyusun fakta-fakta sehingga terbentuk suatu kisah atau ceritera yang bermakna dari kehidupan masa lampau atau bangsa. Dalam kegiatan ini biasanya sejarawan tidak bisa menghindari diri dari sudut pandang (subyektifitas) karena untuk menentukan fakta mana yang diangga bersesuaian/bermakna biasanya berlandaskan pada kecenderungan pribadi pada kelompoknya.Oleh karena itu disinilah sejarawan melakukan subyektifitas yang dituntut obyektif, sejarawan tidak boleh menipu dirinya sendiri dan pembacanya.

Historigrafi
Historigrafi merupakan puncak kegiatan penelitian sejarah. Dalam hal ini seorang sejarawan atau seoarang penulis karya sejarah berusaha menyusun hasil interpretasi fakta-fakta sejarah. yang ditulis menjadi sebuah kisah atau cerita yang selaras dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penulisan/penyusunan menjadi suatu ceritera sejarah memerlukan kemampuan tertentu untuk menjaga standart mutu ceritera sejarah. Adapun prinsip-prinsip dalam historiografi yang harus diperhatikan oleh seorang sejarawan, yaitu :
a.prinsip serialisasi yaitu cara-cara untuk membuat urut-urutan peristiwa.
b.prinsip kronologi yaitu cara-cara untuk membuat urut-urutan waktu.
c.prinsip kausasi yaitu cara-cara untuk menentukan hubungan sebab akibat.
d.prinsip imajinasi yaitu cara- cara untuk menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa yang terpisah-pisah sehingga menjadi suatu rangkaian yang masuk akal dengan bantuan pengalaman.
Selain metode-metode diatas dalam penulisan sejarah seorang sejarawan atau seorang penulis karya sejarah juga harus mengerti ilmu-ilmu bantu sejarah. Adapu ilmu-ilmu bantu sejarah tersebut antara lain:
a.Philologi: ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dokumen-dokumen bahasa yang bernilai literaturdan kulturil umumdengan latar belakang kebudayaan.
b.Paleografi: ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan menulis macam-macam tulisan purba.
c.Epigrafi (klasik): ahli merosoti dan mengedit teks- teks prasasti kuno yang diketemukan pada batu nisan monumen-monumen dan bangunan-bangunan.
d.Genealogi: ilmu pengetahuan yang mengontentikasi silsilah dan keturunan-keturunan yang berdasarkan hubungan darah.
e.Numismatik: ilmu untuk mengenal mata uang kuno.
f.Ilmu tentang dokumen: naskah-naskah terutama tertuju dalam bahasa diplomatis.
g.Bibliografi: ilmu kepustakaan
h.Arkeologi: ilmu kepurbakalaan menggali terin-terin kuno yang diperoleh dari artefak. Seperti patung, museum, barang-barang pecah-belah bangunan-bangunan dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s