Pada saat menghadiri acara siding penting di Yogyakarta antara Sjahrir dan para tokoh-tokoh lainnya, tiba-tiba listrik mati dan di luar terdengar suara-suara senjata api. Hal ini membuat semua orang terkejut, merangkak di atas lantai untuk mencari perlindungan. Tapi ternyata tidak ada apa-apa dan lampu menyala lagi, hanya Sjahrir sendiri saja yang ternyata masih duduk tenang di atas kursinya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kemmudian pada waktu Sjahrir diculik oleh gerombolan Tan Malaka di Solo, dimana disana banyak orang yang gelisah karena takut kalau Sjahrir benar-benar ditembak mati, tetapi beliau malah bersenda gurau dengan teman-temannya. Dan juga pada saat Sjahrir berpidato untuk menenangkan rakyat setelah peristiwa tersebut beliau tak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada para penculik karena sudah diberi “hari libur sebagai Perdana Menteri”.
Dari beberapa peristiwa di atas kita dapat membaca dan menangkap pemikiran dari sang tokoh bahwa dalam keadaan seperti apapun baik maupun buruk beliau selalu bersikap tenang untuk tidak panic seolah-olah tidak terjadi apa-apa di sekitarnya.Pada waktu Sjahrir tampil di depan untuk memimpin KNIP Bukan karena ia merebut kursi tetapi karena adanya dukungan dan kepercayaan dari kawan-kawannya. Dari sini dapat dilihat bahwa kualitas dari Sjahrir sudah tidak diragunakan lagi dan sudah diakui oleh para pemuda-pemuda pada saat itu. Dimana dalam menjalankan aksi-aksinya yang sering sembunyi-sembunyi atau bawah tanah telah dapat menghasilkan  politik praktis pada saat itu.
Untuk mengetahui pribadi Sjahrir, baik sebagai politikus maupun sebagai manusia dimana ia menulis di sebuah karangan pendeknya dengan tenang dan jujur, kita melihat bukan hanya seorang pemikir yang abstrak, tapi seorang negarawan yang besar, ningrat yang merakyat, sosialis yang berkeyakinan kuat serta anti feudal dan fasis. Beliau adalah seorang yang berpikir dan selalu mengajak dan merangsang teman-temannya untuk berpikir, ia sendiri memang berhaluan sosialis bahkan beranggapan bahwa yang dituju oleh nasionalisme Indonesia pada saat ini adalah masyarakat sosialis. Seperti dalam tulisannya “Selama kita hidup di tengah-tengah dunia pengaruh kapitalistis, kita terpaksa menjaga agar kita tidak bermusuhan dengan dunia kapitalistis itu dan itu membawa kesimpulan bahwa kita harus membuka diri sebagai daerah berkarya mereka, akan tetapi dengan syarat bahwa kesejahteraan rakyat kita tidak dirugikan karenanya”.
Sjahrir adalah nasionalis tidak sempit yang melihat jauh ke depan: “Keluar, revolusi kita menampakkan diri sebagai revolusi nasional; ke dalam, revolusi kita sesuai dengan hokum-hukum demokrasi masyarakat, punya serat-serat sosialis. Jika kita tidak sadar mendalami kenyataan itu, maka apa yang ada pada saat ini perjuangan kita, hanyalah tetap tinggal revolusi nasional belaka, penuh pengertian palsu terhadap perubahan-perubahan yang sekarang sedang bekerja dan melaksanakan diri dalam masyarakat kita yang demokratis. Maka ada bahaya besar, kita lalu tidak mengenal kembali salah satu musuh kita yang mengambil bentuk yang cocok dengan bentuk-bentuk tertentu dari nasionalisme; sehingga nasionalisme kita lalu mendapat raut-raut muka dari sebentuk solidarisme, jelasnya solidarisme feodal atau hirarkis. Dengan kata lain: fasisme, musuh terbesar dari kemajuan semua bangsa di bumi ini”. Kemudian Sjahrir melanjutkan keterangan hal itu dengan beberapa ilustrasi situasi bangsa kita yang terpojok: “Kita hidup dalam satu dunia dimana tenaga atom sudah dimanfaatkan dengan suatu teknik, suatu organisasi dan ilmu pengetahuan yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan dunia di zaman Revolusi Perancis. Masyarakat kita sudah mengenal pembentukan-pembentukan trust dan kartel, dan kongsi-kongsi kapitalis minyak dan sebagainya yang membuktikan, bahwa kendatipun revolusi kita adalah revolusi rakyat, kita tidak boleh keliru dan menyamakannya dengan Revolusi Perancis. Perancis dan Revolusi Perancis merupakan barisan pelopor dan pandu-pandu dari dunia kapitalistis imperialistis.
Konsep nasionalisme milik Sjahrir yang tidak sempit sentimentil terpukau pada soal gengsi yang kurang dewasa dan yang langsung konsisten menunjuk pada isi revolusi nasional kita. Menurut teman-temannya, Sjahrir bukan hanya analis kemasyarakatan yang cerdas-rasionil melihat rakyat dari atas, melainkan benar-benar bisa menangis secara harfiah bila melihat keterbelakangan dan penderitaan orang kecil.
Sekali lagi disini bahwa Sjahrir dapat melihat penghalang paling gigih dari kaum buruh tani dan orang kecil umumnya yang ingin maju, bukan di luar tetapi di dalam tubuh bangsa kita sendiri, terutama dalam feodalisme yang masih menguasai daerah-daerah tani dan yang dipelihara oleh Pemerintah kolonial Belanda melalui tuan-tuan tanah besar, peraturan-peraturan penguasa, kerja paksa dan sumbangan-sumbangan wajib”. “Sedangkan kaum pemuda, terutama yang terpelajar tidak dapat memenuhi tugasnya sebagai perintis sesuai dengan apa yang kita kita cita-citakan.
Ketika angkasa Indonesia sedang gelap gulita, dimana disana sang Perdana Menteri Sjahrir sedang berpidato dengan sangat tenang dan jelas untuk mengajak kita ingat diri, meninjau ke dalam dan memandang jauh ke depan dengan mengutamakan akal daripada perasaan jangan sampai menyia-nyiakan daya. Revolusi perbuatan yang tidak didasari oleh revolusi jiwa pada akhirnya akan menjadi aksi anarki.
Menurut pendapat dari Roeslan Abdoelgani tentang pribadi Sjahrir ialah bahwa sesungguhnya ia kurang tepat kalau dianggap sebagai “Pahlawan Nasional” karena nasionalisme bagi Sjahrir hanyalah sebagai alat atau kendaraan dan RI adalah nama dari suatu revolusi yang lebih mendalam lagi. Akan lebih tepat dan cocok dengan pemberian title sebagai seorang “Pahlawan Kemerdekaan” karena ia adalah contoh manusia yang benar-benar merdeka dalam merintis suatu kemerdekaan bagi bangsanya. Kalau ada title semacam “Pahlawan Sosialis” bisa dibilang Sjahrir layak disebut demikian.
Apakah selama ini Sjahrir dalam bentuk-bentuk pemikirannya tidak pernah melesat atau salah. Tak ada gading yang tak retak. Meskipun beliau adalah termasuk salah satu diantara para pemimpin bangsa yang punya pemikiran yang sangat cemerlang yang kita miliki, tapi kita juga harus mengakui bahwa beliau juga manusia biasa seperti kita-kita yang setiap saat pasti akan melakukan kesalahan.
Diantaranya adalah penilaiannya terhadap gerakan kaum buruh Internasional atau tepatnya di blok Barat. Dimana ia masih mengira, bahwa kaum buruh disana merupakan sekutu yang dapat diajak bekerja sama untuk mengakhiri kapitalisme borjuis yang berperangai imperialistis tadi. Lalu yang kemudian ialah bahwa ia menilai bangsa dan pemerintah Belanda cukup masuk akal untuk mengatasi saat historis kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu Sjahrir menganggap bahwa hasil dari Konferensi Meja Bundar bukanlah merupakan suatu kemenangan tapi suatu kekalahan. Karena meskipun bendera Merah Putih benar-benar berkibar di Jakarta tapi seluruh daerah di Indonesia ini perekonomiannya masih dikuasai oleh Belanda.
Berikut ini merupakan perbedaan pandangan antara Ir. Soekarno dengan Sutan Sjahrir dalam membangun bangsa tercinta ini. Pertama: Soekarno adalah seorang nasionalis pertama-tama yang dimiliki bangsa kita ini, dimana dalam nasionalismenya beliau bercita-cita untuk membangun tata dunia baru yang sudah usang, Lalu ia adalah personifikasi seluruh cita-cita patriotic yang menghubungkan antara masa lampau dengan masa kini. Dalam konsep pemikirannya Soekarno ini berusaha untuk menyatukan atau kawin dengan dunia Barat. Dengan salah satu caranya beliau memobilisasi massa untuk bersatu membangun tanggul dan saluran pertahanan guna menghadang badai yang berusaha menerjang. Sedangkan Sutan Sjahrir adalah seorang humanis pertama yang berusaha untuk membuat dunia baru dengan menggunakan jiwa universalnya untuk perjuangannya. Sebenarnya Sjahrir ini merupakan tipe manusia masa depan yang keluar terlebih dahulu untuk mengatur masalah nasionalisme dan kemudian berusaha untuk menyatukan antara masa depan dengan masa kini dengan caranya sendiri. Bagi Sjahrir antara Barat dan Timur sudah tidak ada, ia hanya tersenyum dan mengajukan saran: Jadilah burung, betapapun kecilnya begitu kita lepas dari hokum alam atau rimba.
Kedua: Pada dasarnya pemikiran Sjahrir tentang nasionalisme sudah terlalu tinggi (abstrak), dimana dengan cara-caranya sendiri ia berusaha untuk mengenal manusia dan membuang jauh-jauh segala sifat kemunafikannya yang terselubung. Beliau tetap setia pada negeri tercinta ini. Dalam hal kebudayaan bangsa kita lebih dekat kepada Amerika atau Eropa daripada kebudayaan Timur. Apapun dasar budaya kita, Baratkah atau benih-benih kebudayaan feodal yang masih ada dalam masyarakat kita. Selain itu setelah beliau berkeliling Asia dengan penuh keheranan ia melihat dan menemukan bahwa bangsa kita ini merupakan bangsa yang paling banyak meniru bangsa Barat. Apakah kita pernah melihat Nehru, Gandhi, Ho Chi Minh atau Mao memakai jasa dengan gaya pakaian Barat, mereka masih setia kepada kebudayaan bangsanya. Di Negara kita ini seluruh kebudayaan dari luar yang ada langsung ditelan mentah-mentah tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Menurut ia juga bahwa standar ukuran nasional bangsa kita paling tidak berwatak dan dari sini mana mungkin akan tercipta rasa nasionalisme yang tinggi seperti bangsa-bangsa lain. Apakah kita harus memilih antara jadi budak dengan jadi tuan, mengapa kita harus memilih antara Barat dengan Timur. Kita tidak boleh atau perlu untuk mengambil salah satunya atau lainnya, kita bisa menolak kedua-duanya karena keduanya sudah ketinggalan jaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s