Reformasi disebabkan oleh kejadian 2 yang kompleks, The Babylonian Capavity of the popes dan Sehisma besar sangat mengurangi prestise Roma.

Korupsi dan keduniawian gereja dan zaman Renesance mengakibatkan kebencian orang-orang yang kemudian timbul pemikiran, bahwa fungsi pendeta-pendeta gereja sebagai penghubung antara tuhan dan seorang individu tidak lagi dibutuhkan dan bahwa gereja Khatolik bukan satu-satunya lembaga untuk mendapatkan penyelamatan dari dosa. Terdapat pula alasan yang non spiritual, antara lain :
1). Suatu sikap yang kritis terhadap kekayaan gereja Khatolik dan keuntungan 2 materil yang mereka terima.
2). Negara-negara nasional baru tidak setuju dengan konsep Internasional Gereja Khatolik.
3). Di antara Pangeran dan Jerman ada yang ingin menghapusakan otoritas rohaniawan dalam wilayahnya.
4). Banyak dari penduduk kota ingin menghapusakan supervisi gereja atas bisnis mereka.
 Reformasi bermula dari seorang tokoh bernama Martin Luther ( 1483-1546 ). Luther sebagai seorang rahib sekaligus seorang doktor teologi yang memiliki kecerdasan berpikir tentu tidak seperti orang kebanyakan, yang menerima begitu saja semua apa yang dikatakan oleh Paus di Roma. Dalam masalah “rahmat keselamatan” umpamanya. Menurut kebanyakan orang, maka tentu biaralah yang menjadi jalan terbaik untuk memprolehnya. Akan tetapi sekalipun ia telah menempuh jalan yang ditunjukkan oleh gereja dengan sungguh-sungguh, akhirnya ia merasakan bahwa jalan itu adalah jalan buntu. Karena kesungguhannya yang luar biasa, pada akhirnya ia pun menemukan juga, yaitu I : 16 – 17 yang berbunyi : Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang . . . sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin pada iman, seperti ada tertulis demikian : ‘orang benar akan hidup oleh iman’. Menurutnya bahwa kebenaran Allah itu tidak lain dari pada ‘rahmat Allah’ yang menerima orang-orang berdosa serta berputus asa terhadap dirinya sendiri, tetapi yang menolak orang yang menganggap dirinya baik; bahwa kebenaran Allah tidak lain dari pada suatu pemberian yang dianugrahkan-Nya kepada setiap manusia, yang ingin menyebutnya iman. Di tengah pergumulannya ini Luther telah bertemu dengan Allah, Tuhannya.3
Berangkat dari pemikirannya yang demikian, maka ketika Paus Leo X menyarankan kepada Uskup Besar Albrecht dari Mainz untuk memperdagangkan ‘Surat Penghapusan Dosa’ secara besar-besaran di Jerman, dengan berani ia menentangnya. Perbuatannya telah mendorong Kaisar Karel V mengadakan suatu ‘rapat kerajaan’ dan mengeluarkan ‘Edik Worms’, dalam mana Luther dengan pengikutnya dikucilkan dalam masyarakat dengan ‘kutuk kerajaan’. Semua karangan Luther harus dibakar. Ia sendiri boleh ditangkap dan dibunuholeh siapa saja yang menemuianya. Keadaan ini tidak melemahkan para pengikut Luther, bahkan sebaliknya. Karena pertikaian yang berkepanjangan, maka pada tahun 1529 diadakan pula rapat kerajaan di Jerman. Akan tetapi karena kebanyakan anggota yang hadir adalah pengikut Roma Khatolik, maka rapat itu memutuskan untuk melarang adanya reformasi di seluruh wilayah ke Kaisaran. Hal ini tidak bisa diterima oleh para pengikut Luther, mereka mengemukakan ‘protes’ dengan kerasnya. Sebab itu timbul lah istilah ‘orang Protestan’ dan selanjutnya ‘Agama Protestan’.

Sejak itu pertikaian kedua golongan itu pun menjadi semakin meningkat. Meskipun Kaisar Karel V sudah berjanji untuk mendengarkan dan mempertimbangkan pandangan-pandangan kaum reformis, pada sidang kerajaan tahun 1530, akan tetapi golongan Roma Khatolik tetap bersikeras dan berniat untuk meniadakan reformasi. Maka tidak dapat dihindarkan terjadinya peperangan antara raja-raja yang berpihak kepada reformasi maupun Roma Khatolik. Setelah 25 tahun peperangan, akhirnya pertikaian Roma Khatolik dan Protestan diselesaikan pada tahun 1555 oleh ‘perdamaian Agama di Augsburg’. Kaisar terpaksa mengakui adanya ‘Gereja Reformasi’ sebagai agama resmi yang setara dan memiliki otoritas yang sama dengan ‘Gereja Roma Khatolik’.  

Berbeda orangnya, lain pula model yang dilakukannya. Orang kedua terbesar setelah Luther pelanjutnya adalah Johanes Calvin ( 1509-1564 ).
Calvin agak berbeda dengan pendahulunya, Luther , dalam model pembaruannya. Kalau Luther masih memperlihatkan sikap-sikap yang tradisionalistis, yaitu masih mempertahankan tradisi-tradisi ritual Roma Khatolik, asal saja tidak bertantangan dengan al-kitab, maka Calvin adalah Lain. Calvin menolak sepenuhnya tata aturan dan tata kerja yang berasal dari ajaran Roma Khatolik. Ia mengubah dengan modelnya sendiri, yang benar menurut pandangannya, sesuai dengan al-kitab. 
Segera setelah ia menjadi pendeta resmi di Genewa, ia mengajukan  rancangan tata kerja baru dan bermakhsud menjalankan ‘siasat’ yang keras, baik terhadap ajaran agama, maupun atas kelakuan anggota jemaat. Sekalian penduduk diwajibkan untuk menandatangani sehelai ‘surat pengakuan’ karena segenap penduduk kota hanya boleh terdiri dari warga Kristen yang sadar akan imannya. Pengajaran agama mendapat perhatian sungguh-sungguh, juga untuk masalah perkawinan dibuat peraturan baru ( baik Luther maupun Calvin, keduanya mempunyai istri ).
Tetapi rancangan Calvin tersebut tidak dapat dilaksanakan. Persoalannya karena pihak Genewa tidak menghendakinya, juga adanya protes dari kalangan penduduk yang tidak menginginkan adanya surat pengakuan. Dengan terpaksa Calvin meninggalkan Genewa. Akan tetapi selang beberapa tahun, Calvin dipanggil kembali ke Genewa untuk melanjutkan rancangan tersebut. Demikianlah Calvin menjadikan kota Genewa sebagai pilot proyek bagi masyarakat Kristen yang dikuasai pleh firman tuhan saja, teokrasi. Untuk mencapai makhsudnya, yaitu suatu jemaat yang suci, Calvin semakin keras bertindak dalam melaksanakan siasat. Orang-orang yang berpangkat tinggi, bangsawan, orang kaya tidak dikecualikan. Hukuman berat ditentukan untuk mereka yang melakukan tingkah laku yang tidak senonoh, seperti berdansa, berzina, main kartu, tidak berbuat baik kepada orang tua, lalai menghadiri kebaktian dan sebagainnya. Orang-orang yang keras diserahkan pada penguasa duniawi. 
Dengan itu Calvin semakin kokoh saja kedudukannya. Genewa telah menjadi sebuah kota menurut model dan cita-cita Calvin. Masyarakatnya taat kepada al-Kitab. Cara hidup di Genewa benar-benar sederhana dan keras, akan tetapi dengan begitu rakyat semakin bertambah kuat, rajin dan makmur. Kota Genewa inilah kemudian menjadi tipe ideal bagi kota-kota lain di Eropa yang Protestan. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s