Perang Dingin Part 1 (Zona Eropa)

Perang Dingin adalah salah satu isu politik terpenting pada periode awal pasca perang. Perang ini muncul karena ketidaksepakatan yang berkepanjangan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Pasaca Perang Dunia II, rasa permusuhan timbul lagi. Amerika Serikat berharap bisa berbagi konsep kemerdekaan, persamaan dan demokrasi. Amerika Serikat menempatkan posisi berada dalam pendukung perdagangan bebas dan ingin menghapus hambatan dagang. Amerika Serikat melakukan itu semua untuk menciptakan pasar bagi industri dan pertanian Amerika. Pengurangan hambatan dagang diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam dan luar negeri. Dan mendukung stabilitas dengan teman dan sekutu Amerika.
Uni Soviet punya agenda sendiri, Rusia masih memegang teguh pemerintahan yang terpusat dan otokrasi. Selama perang ideologi Marxis-Leninis memang tidak terlihat, akan tetapi masih dijadikan panduan kebijakan Soviet. Uni-Soviet ingin segera bangkit dari kehancuran pasca perang dan melindungi diri dari konflik seperti itu.

Asal usul Perang Dingin
Perang Dingin berkembang saat perbedaan-perbedaan tentang bentuk dunia pasca perang telah menciptakan kecurigaan antara Amerika Serikat dengan Uni-Soviet. Konflik pertama dalam perang ini berkaitan dengan Polandia. Moskow ingin pemerintahan dibawah Soviet, sedangkan Amerika mengingankan pemerintahan yang independen dan representatif sesuai dengan model barat. Konfrensi Yalta pada bulan Februari 1945 menghasilkan kesepakatan yang salah satu isinya yaitu janji akan pemilu yang bebas di Polandia. Pertentangan kedua negara semakin runcing setelah diadakannya pertemuan antara Presiden Amerika dengan Mentri Luar Negeri yang kemudian berakhir dengan ketersinggungan menteri luar negeri Soviet.
Pasca bulan-bulan terakhir PD II, Soviet berhasil menduduki seluruh Eropa Tengah dan Timur. Moskow memberikan bantuan militer kepada partai-partai komunis untuk menghancurkan partai-partai demokratis di Eropa Timur. Dan puncaknya terjadi pada peristiwa kudeta di Cekoslowakia tahun 1948.
Pencegahan terhadap meluasnya pengaruh Uni Soviet menjadi kebijakan Amerika Serikat pada pasca perang. Penerapan penting pertama yaitu dengan doktrin pencegahan yang dilakukan di wilayah Timur Laut Tengah. Pencegahan juga membutuhkan bantuan ekonomi yang besar untuk membantu negara-negara Eropa Barat yang hancur akibat perang. Dengan jumlah negara yang begitu banyaknya di wilayah tersebut, Amerika Serikat khawatir bahwa partai komunis yang diarahkan ke Moskow akan mengambil keuntungan dari peran mereka semasa perang dengan Nazi dan memegang kendali pemerintahan. Pada tahun 1947 Marshall meminta negara-negara Eropa yang sedang bermasalah untuk membuat doktrin lain. Soviet juga ikut berpartisipasi dalam pertemuan pertama lalu memisahkan diri dan bukanya berbagi data ekonomi tentang sumber dan problem mereka. Selanjutnya Soviet menyerahkan kepada barat. Keenam belas negara menyodorkan permintaa bantuan yang totalnya sebesar $17 miliar untuk periode empat tahun. Bantuan ini dijuluki “Rencana Marshall” atau “Marshall Plan” dan secara luas dianggap sebagai salah satu usulan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dianggap paling sukses dalam sejarah.
Pasca perang, Jerman dibagi menjadi zona pendukung Amerika Serikat, Soviet, Inggris dan Perancis. Ketika dunia barat mengumumkan niatnya untuk membentuk negara federal dari zona mereka sendiri, stalin melayangkan protes. Tanggal 23 Juni 1948, pasukan Soviet memblokade Berkin, menutup semua jalan dan akses rel dari barat.
Para pemimpin Amerika takut hillangnya Jerman sebagai awal kehilangan Eropa. Oleh sebab itu dalam serangkaian tindakan yang dikenal sebagai Angkutan Udara Jerman. Pesawat Amerika, Prancis dan inggris mengirim hampir 2.250.000 ton barang dan batu bara. Stalin mencabut blokade setelah 231 hari dan 277.264 penerbangan.
Dominasi Soviet di Eropa Timur mengkhawatirkan negara barat. USA memimpin usaha membuat persekutuan angkatan bersenjata agar langkah pencegahan yang sebelumnya mengandalkan usaha ekonomi makin lengkap. Pada tahun 1949, USA dan 11 negara lain membentuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara  ( North Antlatic Treaty Organization, NATO ).

BUDI UTOMO

BUDI UTOMO berdiri di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Sutomo dan rekan-rekannya, untuk merealisasikannya diperlukan pengajaran bagi orang Jawa agar mendapatkan kemajuan dan tidak dilupakan usaha membangkitkan kembali kultur Jawa; antar tradisi, kultur, dan edukasi Barat di kombinasikan. 
Corak baru yang diperkenalkan BUDI UTOMO adalah kesadaran local yang diformulasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti bahwa organissasi itu memiliki pemimpin, ideologi yang jelas, dan anggota. Yang sangat pada BUDI UTOMO karena organisasi ini diikuti oleh organisasi lainnya dan dari sinilah terjadinya perubahan sosio-politik. 
Pancaran etnonasionalisme makin membesar dan hal ini di Budi Utomo ketika dalam kongres BUDI UTOMO yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Oktober 1908. dalam waktu singkat dalam BUDI UTOMO terjadi perubahan orientasi. Kalau semula orientasinyaterbatas pada kalangan priyayi maka menurut edaran yang dimuat dalam Batasviaasch Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, BUDI UTOMO cabang Jakarta mulai menekankan cara baru bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat. Didalam kongres itu terdapat dua prinsip perjuangan, yang pertama di wakili oleh golongan muda yang cenderung menempuh jalan perjuangan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial, sedangkan yang kedua, diwakili oeh golongan muda yang ingin tetap pada cara lama yaitu perjuangan sosio-kultur. Bagi golongan muda perjuangannya itu sangat tepat guna memberikan imbangan politik pemerintah. 
Dalam perkembangan selanjutnya, meskipun ada kelompok muda yang radikal, tetapi golongan tua masih meneruskan cita-cita BUDI UTOMO yang mulia disesuaikan dengan perkembangan politik. 
Pada dekade ketiga abad XX kondisi sosio-politik semakin matang dan BUDI UTOMO mulai mencari orientasi politik yang mantap dan mencari massa yang lebih luas. Kebijaksanan politik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, khususnya tekanan kepada pergerakan nasional maka BUDI UTOMO mulai kehilangan wibawa, terjadilah perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam BUDI UTOMO. Pengaruh BUDI UTOMO semakin berkurang dan pada tahun 1935 organsasi Budi Utomo ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak saat itu BUDI UTOMO terus mundur dari arena politik dan kembali ke keadaan sebelumnya. 
Dalam perjalanannya, BUDI UTOMO dengan flesibilitasnya itu mulai menggeser orientasinya dari kultur ke politik. Edukasi Barat dianggap penting dan dipakai sebagai jalan untuk menempuh jenjang sosial yang lebih tinggi. Golongan priyayi cilik mendapat kesempatan untuk ikut serta memobilisasikan diri melalu kesempatan gerakan yang lebih merakyat. BUDI UTOMO hanya dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi yang terpanjang usianya sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Kerajaan Chenla

Menurut sumber Cina kerajaan Funan jatuh akibat terjadinya pemberontakan Chenla. Mala-mula Chenla merupakan daerah vasal kerajaan Funan. Kerajaan Chenla terletak di sebelah utara Funan, meliputi daerah-daerah Me¬kong hilir dan tengah. (sekarang Camboja Utara dan Laos),
Bukti historis bahwa sebagai pendiri kerajaan Chenla disebut-sebut nama Bhawawarman ( 550 – 600 ) dan Mahendrawarman ( 600 – 611 ) ke duanya kakak beradik dari kelompok militer. Mereka dikenal sebagai pemuja Siwa dan Indra.
Kebesaran kerajaan Chenla mulai dilakukan dimasa pemerintahan Isanavarman, putera dari Mahendrawarman yang kemudian mulai mempersatukan atau menggabungkan Funan dan Chenla menjadi satu ( 627 ). Ia dikenal pula sebagai seorang penakluk. Banyak kerajaan yang ditaklukannya. Pusat pemerintahan terdapat di kota Isanapurat sebagai kota bandar di lembah Sungai Mekong, Hanya dengan kerajaan Champa ia memelihara hubungan baik bahkan ia telah mengawini puteri Champa. Berdasar berita Cina, Isanawarman memerintah sampai tahun 635. Adapun prasasti terakhir yang dikeluarkan bertarich tahun 628 / 629.
Pada tahun 706, kerajaan Chenla dipecah menjadi 2 bagian yakni Chenla selatan dan Chenla utara. Mengenai sejarah Chenla Utara dapat diketahui dari berita-berita Tionghoa atau Cina. Nama yang dipakai untuk Chenla adalah Wen-Tan. Daerahnya sampai di Junnan Penduduknya terdiri dari bangsa Thai. Kerajaan itu juga menyelenggarakan atau menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Berturut-turut dilaporkan tentang kedatangan duta-dutanya di istana kaisar di Cina. Sumber-sumber yang menceritakan tentang sejarah Chenla Utara sangat sedikit sekali.
Sementara itu di Chenla Selatan, sepeninggal Jayawarman I terjadi perebutan supremasi antara dinasti Aninditapura, Nyadhapura dan Sambhupura. Permusuhan itu akhirnya dapat diselesaikan dengan jalan perkawinan politik, hingga Chenla Selatan dapat bersatu kenibali. Adapun yang dapat dianggap mempersatukan keutuihan Chenla Solatan adalah Sambuwarman Pusat pemerintahan terdapat di Armker-Boraio
Selanjutnya raja-raja yang memerintah sampai akhir abad 10 sangat sedikit sekali yang diketahui. Sejarahnya diketahui hanya menceritakan tentang hasil-hasil seni bangunan, bukan kejadian yang berbau politik.
Raja-raja yang memerintah adalah
1. Suryawarman I
Putra dari raja Tambralinga. Pernah melakukan ekspansi ke lembah sungai Menan. Menurut prasasti Lephuri, kekuasaannya meliputi kerajaan Doarwati dan Kerajaan Tambralinga. Peninggalanya yang terpenting adalah sebuah candi yaitu Phimeanakus dan Ta Keo.
2. Suryawarman II
Raja ini juga membuka hubungan diplomatik dengan Cina. Berkali-kali ia mengirim duta-dutanya ke Cina. Peninggalannya adalah bangunan suci yang terkenal adalah Angkor Wat
3. Jayawarman VII
Kekuasaannya meliputi daerah Champa ke utara sampai wilayah di Say-Fong (Viantine). Peninggalannya adalah sebuah monumen Bayon, yang merupakan kuil Budha yang berbentuk Piramid.
4. Indrawarman III
Dalam pemerintahannya agama Budha Therawada cepat sekali dalam berkembang dan menjadi agama rakyat.
Keruntuhan kerajaan Angkor juga dipercepat oleh lamanya peperangan yang dilakukan dalam menghadapi bangsa Thai ( 1350-1431 ). Selain mnghadapi dari bangsa Thai, kerajaan Cambodia itu juga menghadapi ancaman dari Champa. Selain itu juga karena adanya perpindahan ibukota kerjaan yang dilakukan oleh putra mahkota Cambodia yaitu Ponha Yatt.

Capital Accumulation dan Penolakan Nilai Intrinsik Alam sebagai Karakteristik Kapitalisme

Menurut pendapat George C. Lodge, dengan mengutip dari The oxford English Dictionary, mendifinisikan Kapitalisme sebagai penumpukan modal (Capital accumulation) yang merupakan ciri utama yang melekat pada sistem Kapitalisme.Sedangkan menurut Houman Shadap dikatakan bahwa Kapitalisme sebagai pemisahan secara mutlak antara urusan ekonomi dengan urusan negara, seperti pemisahan antara urusan agama dengan urusan negara. Dari definisi itu menyebutkan dalam kapitalisme terkandung sebuah prinsip yang melarang adanya otoritas negara untuk turut camput tangan dalam masalah ekonomi.
Menurut Karl Marx ( 1818- 1883) yaitu seorang filosof dari Jerman ayng sejak masa mudanya telah menganalisis dan mengkritisi masyarakat kapitalis, mengatakan bahwa dari segi proses, kapitalisme adalah system ekonomi yang hanya mengakui satu hukum, yaitu hukum tawar menawar. Dengan demikian, dalam pandangan marx, kapitalisme adalah system ekonomi yang bebas, yakni bebas dari pembatasan oleh penguasa, bebas dari pembatasan produksi. Sebagaimana dikutip Franz Magnis Suseno, Marx berpendapat bahwa yang paling menentukan dalam Kapitalisme adalah keuntungan yang lebih besar.
Karena itulah Karl Marx, sebagaimana dikutip Gidden, menyatakan bahwa pengejaran keuntungan merupakan hal yang hakiki dalam kapitalisme. Sedangkan menurut Max Weber, sebagaimana yang dikutip oleh Gidden, juga mengatakan bahwa segi utama dari semangat Kapitalisme (modern) adalah perolehan uang sebanyak-banyaknya dikombinasikan dengan menghindari secara ketat menikmatinya sama sekali secara spontan. Dari pendapat ini weber hendak menyatakan bahwa kapitalisme, identik dengan pencarian ( pemupukan ) keuntungan dan keuntungan yang terus diperbesar melalui usaha-usaha yang bersifat kapitalistik secara rasionaldan tiada henti.
Dalam teori adam Smith persaingan bebas dimaksudkan untuk diberlakukan bagi pengusaha demi kebaikan masyarakat umumnya. Jika setiap pengusaha bersaing secara bebas untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan konsumen, maka yang diuntungkan adalah konsumen atau masyarakat umumnya. Berlakunya persaingan bebas, merupakan refleksi dari konsep perjuangan untuk hidup, dan inikah yang melandasi mekanisme pasar bebas.
Berdasarkan ideologi kapitalisme, jumlah dan macam kapitalisme, jumlah dan macam produksi tidak oleh kebutuhan alamiah manusia, melainkan sebaiknya kiebutuhan manusia terus dikembangkan agar mau menampung hasil produksi. Sistem ini berhasil memperluas penawaran barang dan pelayaran bagi masyarakat melalui pembaharuan teknologi. Terwujudlah kemudian apa yang dinamakan masyarakat konsumtif, dimana mereka secara otomatis akan memperluas kebutuhan – kebutuhannya sesuai dengan barang yang dilemparkan ke pasar oleh para produsen.
Ideoligi kapitalisme sebenarnya sangat mengagungkan ilmu dan teknologi dan mengingkari nilai-nilai intrinsik alam. Sebagaimana dikatakan oleh futorolog Hermann Kahn yang dapat dianggap dapat mewakili penganut kapitalisme, bahwa tehnologi adalah motor kemajuan dan ilmu adalah bahan bakarnya. Ilmu yang menjadi landasan kapitalisme adalah ilmu yang landasan aksiologinya didasarkan pada ideal Francis Bacon, yang menyatakan bahwa tujuan ilmu adalah untuk mengusahakan posisi yang lebih menguntungkan bagi manusia dalam menghadapi alam. Ideal Francis Bacon ini menerima ajaran dominium terrae, sebagai mandate untuk menguasai alam.
Atas dasar ini maka dapat dipahami pernyataaan Franz Magnis Suseno, yang menyatakan bahwa dalam kapitalisme, sumber daya balam adalah hanya dijadikan sarana belaka untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dari pernyataaan Suseno ini dapat dijelaskan bahwa kapitalisme mengkonsepsikan lingkungan dalam pandangan yang antroposentik. Otto soemarwoto menyebutkan, ontroprosentisme ialah pandangan manusia terhadap lingkungan hidup yang menempatkan kepentingan manusia dipusatnya. Sedangkan menurut Dale T. Snauwaert, Pandangan antroprosentris menolak keberadaan nilai nilai intrinsik alam. Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pandangan antroposentrik menimbulkan implikasi bahwa lingkungan dipandang tidak lebih dari sekedar obyek yang hanya memiliki nilai sejauh ia dapat memenuhi kepentingan manusia. Dengan kata lain, lingkungan dapat diekploitasi demi kepentingan manusia.

Kerajaan Funnan

Berita yang menyangkut berdirinya kerajaan Funnan berasal dari Cina sekitar abad 3 masehi. Petunjuk pertama dari orang Cina mengenai kerajaan tersebut datang dari utusan yang dikirim oleh kaisar bernama Kang Tai. Sedangkan kaisar yang berkuasa pada waktu itu adalah Fan Shun.
Pendiri kerajaan Funnan, menurut berita dari Cina adalah Fang Shih-man. Fan Shih-Man adalah penakluk besar, beliau mengembangkan kekuasaan kerajaannya sedemikian rupa sehingga dijuluki atau diberi gelar raja besar. Beliau juga membangun angkatan laut yang besar untuk menguasai lautan. Dalam cerita menyebutkan, beliau menyerang 10 kerajaan dan menuguasai 4 diantaranya. Wilayah kekuasaannya meliputi lembah-lembah sungai Mekong dan Tole Sap.
Titel Dinasti Funnan disebut sebagai King of The Mountain (Raja Gunung). Ibukota kerjaan adalah Vyadapura yang terletak di daerah jalur lalu lintas perdagangan sungai Mekong. Wilayah kekuasaan kerajaan Funnan meliputi pantai Malaya sebelah utara. Dan juga mengawasi pelabuhan dan kapal-kapal disekitar pantai Camrah Bay. Lalu lintas perdagangan mengandalkan aliran sungai. Negaranya bersifat agraris dengan mengandalkan hasil pertanian. Tanahnya sangat subur karena dialiri oleh sungai-sungai yang ada pada waktu itu.

Proses Masuknya Pengaruh Cina ke Asia Tenggara

Sejarah Asia Tenggara didominasi oleh pengaruh-pengaruh kultural India, Cina, Timur Tengah dan Eropa. Pengaruh Cina di Asia Tenggara mulai nampak melalui dalam bidang perdagangan. Salah satu bukti yang nampak adalah dari hasil kerajinan atau industri yang terbuat dari bahan perunggu, di masa dinasti Shang,  Mereka sebagai pedagang dan penakluk. Pengaruh mereka yang  kuat  karena negara itu bertapal batas dengan wilayah Vietnam Modern dan Laos, juga Burma dan Siam.
Sudah sejak Jaman Kuno pengaruh Cina dan Hindu terasa di kawasan Asia Tenggara. Antara Cina dan Hindu  saling berebut pengaruh di wilayah Annam dan Cochin China dalam memperebutkan supremasinya. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan pengaruh-pengaruh Cina dan  Hindu terhadap daerah-daerah tersebut bukan berarti bahwa kebudayaan-kebudayaan setempat dilenyapkan. Anasir-anasir kebudayaan asli berasimilasi dengan anasir-anasir asing, hal itu tampak dari hasil kebudayaan khususnya hasil-hasil kesenian dan arsitektur.
Kontak antara negara-negara di Asia tenggara dengan Cina dan Hindu nampak dalam hubungan perdagangan. Mereka saling mengunjungi pelabuhan masing-masing. Jauh sebelum tampak gejala-gejala pengaruh India, di Asia Tenggara rupanya sudah ada koloni-koloni kecil perdagangan India di bandar-bandar Asia Tenggara, Sebaliknya demikian pula dengan bandar-bandar di India, terdapat koloni-koloni perdagangan Indonesia baik di Benggala maupun di pantai Coromandel (ke dua belah pihak aktif).
Setelah hubungan dagang itu berjalan lama sekali kemudian tampak perubahan yang besar di Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan mulai timbul, agama, kesenian serta adat istiadat Hindu dianutnya, bahasa Sansekerta dipakai sebagai bahasa suci. Kerajaan-kerajaan baru itu tumbuh di sekitar tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh pelaut-pelaut India pada masa yang silam. Perubahan itu disebab kan oleh kedatangan para brahmana dan pujangga yang berkewajiban menyebarkan kebudayaan Hindu.

Peradaban Mesir Kuno

1. Kehidupan Masyarakat Mesir
Di dalam suatu negara atau pemerintahan selalu dan pasti ada pelapisan atau stratifikasi masyarakat. Hal ini adalah untuk membedakan kelas-kelas sosial yang pada umumnya ada kesenjangan antara golongan atas dan golongan bawah. Demikian juga di Mesir, juga terdapat stratifikasi masyarakat.
  • Bangsawan ( Fir’aun dan keluarganya, pejabat )
  • Pedagang, usahawan dan kaum Borjuis
  • Petani, pekerja kasar, orang Cina, orang asing
Fir’aun merupakan penguasa bagi bangsa Mesir dan merupakan pengejawantahan dari dewa dan ia juga merupakan jiwa negara. Ia bertanggung jawab atas pasang surutnya subgai Nil, hasil bumi, kemajuan perdagangan, nasib tentara dan terpeliharanya perdamaian. Dia juga pemilik tanah dan yang mengeluarkan undang-undang. Sehingga seluruh keadilan dan kepemimpinan berada di tangannya.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Fir’aun oleh para wakil-wakilnya.

Pemerintahan Sipre
Dipimpin oleh seorang Wazir atau perdana mentri. Ia merupakan pejabat utama negara dan satu-satunya orang selain raja yang dapat bertindak dalam urusan sipil. Ia juga mntri peperangan dan kepala polisi kerajaan. Ia juga sebagai juru bicara Fir’aun dan dianggap sebagai wakil kekuasaan surgawi.

Utusan Kuil
Dipimpin dan dikuasai oleh imam agung. Ia sangat berpengaruh karena dianggap sebagai juru bicara dewa. Imam yang paling utama adalah imam yang memuja Dewa Re, dewa Ptah di Memphis. Namun yang paling berkuasa adalah Imam dewa Ammon di Thebes. Hal ini dikarenakana dewa Ammon telah mengusir orang Hiksos dan membuka peluang Mesir untuk memasuki masa kejayaan baru.

Tentara Nasional
Golongan ini muncul pada wangsa ke-18 dan berkembang kuat sehingga Mesir bisa menjadi sebuah imperium. Pada awalnya golongan ini dipimpin oleh Fir’aun sendiri kemudian putra mahkota dan akhirnya dipimpin oleh perwira biasa. Mereka dilatih dan dididik untuk bertempur di segala medan.

selain Fir’aun dan wakil-wakilnya di Mesir ada golongan yang peranannya tidak kalah penting yaitu Juru Tulis yang mana juru tulis ini adalah orang yang menyampaikan perintah dari para penguasa ( raja ) kepada rakyat dan ia juga banyak mencatat urusan negara. Urusan yang paling penting adalah mencatat hasil pajak. Pada dasarnya kedudukan juru tulis ini terbuka untuk berbagai kalangan, namun pada kenyataanya tertutup bagi kaum petani, karena mereka dirasakan kurang berpendidikan sehingga kurang mampu untuk melakukan pencatatan dan urang cermat.
Untuk menjadi seorang juru tulis, mereka diharuskan besekolah di sekolah istana atau sekolah yang didirikan oleh para juru tulis sekuler. Orang yang ingin menjadi juru tulis haruslah orang yang tekun dan cermat untuk bisa bertahan dalam latihannya karena kurikulumnya sangat membosankan dan peraturannya keras.

Lapisan mayarakat selanjutnya adalah petani. Petani ini menggarap tanah dengan menyewa tanah-tanah milik Fir’aun. Sepanjang tahun para petani ini mengerjakan hal yang sama dalam pertaniannyayaitu meratakan lumpur Nil yang terendap karena sungai Nil meluap setiap tahunnya. Kemudian membajak, menanam, mengairi atau irigasi, memanen dan menyerahkan hasilnya ke lumbung dan pada musim kering memperbaiki tanggul dan membersihkan saluran air yang tersumbat. Namun dari rutinitas yang memboankan tersebut, mereka tetap punya waktu untuk melakukan pesta. Waktu melakukan pesta yaitu ketika musim banjir tiba, itu merupakan pesta keagamaan besar, sebab pada saat itu patung dewa dibawa dan diarak keliling negara. Pada saat itulah para petani libur dari tugas-tugasnya.

Pada lapisan terbawah adalah budak, para budak ini berasal dari tawanan perang, tidak mampu membayar utang dan sebagainya. Tidak semua budak bekerja keras dan kasar, ada juga yang dijadikan tentara atau bekerja di tanah bangsawan maupun imam. Namun pekerja budak yang paling berat adalah ketika mereka bekerja di pertambangan emas dan tembaga di wilayah Nubia, Sudan dan Sinai. Udara di daerah tersebut sangat kering dan panas sehingga banyak banyak yang sakit dan mati disana.

2. Seni Bangunan Sepanjang Masa
Seni merupakan suatu ungkapan atau pernyataan tentang apa yang mereka yakini, mereka idam-idamkan serta mereka yang junjung tinggi. Seni juga menjadi saksi yang bisa menceritakan suatu dan cerita sejarah karena seni mencerminkan perjalanan nasib bangsa serta memperlihatkan pergeseran paertahanan mereka.
Demikian juga para arsitek Mesir kuno yang mana mereka bisa menghasilkan sebuah karya yang indah dan megah serta mencerminkan keajaiban teknologi dimana mereka mebangun karya-karya besarnya hanya dengan peralatan yang sederhana.

Piramida
Merupakan makam para raja-raja Mesir. Bagi orang Mesir rumah tidaklah terlalu penting tetapi makamlah yang dipentingkan karena mnurut mereka di makamlah mereka menemukan kehidupan yang abadi.
Pada zaman prasejarah makam hanya ditutup dengan gundukan pasir atau tumpukan batu. Namun pada perkembangannya cara tersebut sudah tidak efektik lagi karena angin gunung menerbangkan pasir dan serigala banyak yang mencari bangkai diantara bebatuan. Sehingga pada masa wangsa-wangsa, orang Mesir membuatkan makam dari bata dan diatasnya ditutup dengan bidang datar dan kemudian menghiasnya yang disebut Mastaba.
Pada masa wangsa ke-3 untuk pertama kalinya dibangun sebuah bangunan yang terbuat dari batu yang disebut Piramid tangga. Piramid ini dibangun dengan sukarela oleh Imhotep uantu Fir’aun Djosen. Piramid ini terdiri dari 6 Mastab yang ditumpuk. Piramid ini berukuran 124m x 103m dan tingginya 60 meter. Pembangunan Piramid selanjutnya adalah dari wangsa ke-4 yaitu Piramid yang berada di daerah Gizeh. Piramid ini ditujukan untuk menghormati Khufu, Khafre dan Minkaure ( Cieps, Chephren dan Mycerius ). Mereka adalah orang yang memerintah pada wangsa ke-4.

Kuil
Pada masa kerajaan pertengahan, Piramid sudah tidak terlalu populer lagi. Bahkan Nephetre Mentuhotep, Fir’aun wangsa ke-11 membangun monumen untuk makamnya dan bukan Piramid di Deir el Bahri dekat Thebes. Yang mana disebelah monumen tersebut terdapat kuil untuk memujanya.
Pada kerajaan baru, ada dua macam kuil yang berkembang di Mesir :
a). Kuil makam : Yaitu kuil yang ditujukan untu para pemuja Fir’aun yang telah meninggal
b). Kuil dewa : Kuil ini digunakan sebagai tempat untuk bersemayamnya arca dewa dan tempat untuk mengadakan upacara pemujaan terhadap dewa tersebut.

Di Mesir, hiasan untuk kuil ini mempunyai ciri khas tersendiri ( batu patung ukiran dan lukisan ). Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
a). Tujuan utama seni Mesir adalah keagamaan dan ciri pokok agama adalah berpegang pada tradisi
b). Sejak semula Fir’aun adalah pelindung utama seni dan merupakan obyek seni yang paling luhur.
c). Pemikiran orang Mesir yang Konservatif

Patung
Para pemahat patung muncul pada masa awal dan mereka membuat patung untuk mewujudkan tokoh yang mereka lukiskan untuk selama-lamanya. Pada umumnya seniman Mesir tidak menaruh minat untuk menangkap emosi-emosi dalam diri seseorang, sehingga patung Mesir tidak bergerak dan hampa perhiasan.

Penggambaran patung penguasa ( Mesir ) Fir’aun pada setiap zamannya selalu berbeda :

a). Kerajaan lama
Fir’aun digambarkan sebagai seorang pemuda yang mempunyai bentuk fisik olahragawan, wajahnya tidak beremosi, tenang, percaya diri dan agung.
b). Kerajaan pertengahan
Fir’aun digambarkan sebagai orang yang angkuh sebagai penakluk. Ciri fisiknya terlihat letih dan tegang solah merasa berat karena tanggung jawab pemerintahan.
c). Kerajaan baru
Pada masa ini patung Mesir lebih banyak menggambarkan kekayaan dan kemewahan dan memperlembut kekerasan dan gaya seni. Hal ini menyebabkan seni menjadi lebih rumit dan menyebabkan seniman dengan lebih sadar mementingkan kesan yang akan ditimbulkan oleh karya seni yang merdeka.

Relief
Relief ini digunakan untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Sama seperti patung, relief ini juga dibuat kaku dan konvensional. Kebanyakan relief di Mseir menggambarkan Fir’aun sebagai seorang raksasa dan rakyatnya adalah orang-orang yang kerdil. Pada akhir kerajaan lama, lukisan menjadi lebih hidup dan objeknya sudah berkembang dan bervariasi seperti lukisan pelayan, pekerja dan petani. Pada akhir abad pertengahan konsep Fir’aun sebgai tokoh ilahi semakin memudar, sedangkan pada kerajaan baru susana hiasan makam berubah dan beralih kearah nada yang suram. Kegembiraan berubah menjadi kemuraman dan percaya diri menjadi kebimbangan.
selain hal-hal diatas masih banyak kesenian Mesir yang abadi yang tidak akan habis dimakan zaman. Seperti Spinx, Oblix dan lain-lain. Satu yang pasti bahwa kesenian Mesir tidak pernah tegantung terhadap seni bangsa lain. Keagungannya terletak pada mutu serta kelanggengan seni itu sendiri. Itulah hal yang menyebabkan seni Mesir tetap terjaga abadi sepanjang masa.

Gerakan Reformasi di Eropa Barat dan Pertumbuhan Kapitalisme

Pembahasan tentang sejarah perkembangan kapitalisme tidak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang sejarah perkembangan tatanan masyarakat di Eropa Barat.
Tumbuh dan berkembangannya apa yang di dalam konteks hubungan internasional disebut sebagai masyarakat internasional juga berawal dari Eropa. Masyarakat internasional yang dimaksud disini adalah masyarakat yang anggotanya terdiri dari negara-negara. Secara yuridis formal titik awal lahirnya masyarakat internasional yang juga merupakan titik awal masyarakat internasional yang juga merupakan titik awal lahirnya negara nasional adalah saat ditandatanganinya Perjanjian West Phalia pada tahun 1648. dalam konteks hubungan internasional perjanjian west phalia mempunyai peran sebagai berikut! 

Pertama, ini mengakhiri kekuasaan imperium Romawi atas negara-negara di Eropa. Negara-negara yang sebelumnya menjadi bagian imperium kerajaan Romawi lebih dari tiga ratus negara dengan resmi menyatakan diri memiliki hak untuk mengadakan persekutuan dengan negara lain. Dengan demikian, bekas negara jajahan imperium Romawi ini menjadi meningkat kedudukannya sebagai pribadi internasional yang memiliki kekuasaan tertinggi atas wilayahnya (supremasi territorial);
Kedua, sebagai dampak dari lepasnya mereka dari kekuasaan imperium Romawi, hubungan antar negara mulai dilepaskan dari pengaruh gereja
Ketiga, meletakkan dasar-dasar eksistensi masyarakat internasional, yaitu bahwa ; (a) setiap negara di dalam batas-batas wilayahnya mempunyai kekuasaan ekslusif (supremasi territorial); (b) tidak ada lagi kekuasaan yang bersifat supranasional yang bisa memaksakan kehendaknya kepada negara. Ketika negara-negara itu baru lahir, hubungan antara anggota masyarakat di dalam negara ataupun hubungan antar negara masih didominasi oleh pengaruh hukum gereja yang telah berlaku selama berabad-abad. System perekonomian yang hidup dalam masyarakatnya merupakan system ekonomi berkala kecil, yang masyarakatnya merupakan masyarakat tradisional yang bersfiat siklis, dimana kehidupan sosial ekonominya berputar-putar pada lokasi setempat.

Keadaan kemudian berubah ketika gelombang industrialisasi melanda negara-negara Eropa Barat. Dalam masyarakat tradisional tersebut perubahan, dimana system ekonomi berskala kecil mulai diguncang oleh adanya industrialisasi sebagai system ekonomi berskala besar. Sebenarnya, industrialisasi itu muncul karena pengaruh zaman Renaisan yang melanda Eropa pada abad kelima belas. Sebagaimana diketahui, dalam perkembangan tatanan masyarakat di Eropa ada pembagian tahap-tahap perkembangan tatanan sosial yang meliputi;

– Zaman Kekaisaran Romawi, dari tahun 27 M hingga tahun 476 Masehi
– Abad Pertengahan, dari tahun 476 hingga 1492
– Zaman Renaisen dari tahun 1493 – 1650
– Zaman Aufklarung (Abad Pencerahan atau Era Rasionalisme) dari tahun 1650 hingga awal 1800-an
– Abad XIX (Modern)

Masing-masing tahap itu ditandai oleh tatanan sosial yang merefleksikan perkembangan pemikiran manusia pada zaman yang bersangkutan. Dalam pandangan penulis, munculnya kapitalisme berhubungan erat dengan perkembangan pemikiran dan tatanan social yang dimulai dari Zaman Renaisan.

Dalam prakteknya, paham kapitalisme telah mendorong dan mengharuskan adanya ekspansi ke luar dalam bentuk penguasaan pasar, sumber pasokan bahan baku dan tenaga kerja semurah mungkin. Perebutan dan penguasaan pasar, sumber pasokan bahan baku dan tenaga kerja pada hakekatnya bertujuan untuk menjamin keberlangsungan penumpukan modal negara asalnya. Proses inilah yang kemudian melahirkan sejarah penaklukan (imperialisme) dan penjajahan (kolonialisme).

Era imperialisme dan kapitalisme berlangsung pada abad ke-18 dan ke-19 tetapi pada pertengahan abad ke-20 praktek imperealisme dan kolonialisme secara fisik sudah relatif hilang, karena setelah Perang Dunia Kedua, mulailah negara-negara jajahan membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Mulai pertengahan abad ke-20 secara perlahan tapi pasti muncullah imperialisme bentuk baru yang dikenal dengan sebutan neo-liberalisme. Berbeda dengan imperialisme lama, dalam bentuknya yang baru kekuatan militer bukan menjadi andalan utama dalam penaklukan negara bekas jajahan pasca kolonial. Kekuatan yang menjadi andalan utama sekarang adalah daya saing dalam sebuah system yang mengunggulkan perdagangan bebas.

Kolaborasi Soekarno dan Hatta Dalam Politik Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang

Kedatangan Jepang pertama kali ke Indonesia disambut dengan hangat oleh rakyat Indonesia, rakyat Indonesia menganggap bahwa mereka telah dibebaskan dari penjajahan Belanda oleh orang Jepang. Orang-orang timur menganggap kemenangan Jepang ini merupakan kemenangan Asia atas Eropa. Masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Jawa menganggap bahwa kedatangan Jepang merupakan realisasi dari ramalan Jayabaya, ramalan yang selama ini dipercaya oleh masyarakat Jawa. Isi ramalan tersebut mengenai akan datangnya orang-orang kulit kuning dari utara.
Pertemuan Soekarno dengan orang Jepang terjadi di Bukittinggi pada tanggal 17 Maret 1942 dengan Kolonel Fujiyama. Kepulangan Soekarno dari tempat pengasingan dijelaskan oleh Dahm. Bernhard Dahm (1987 : 276) dalam bukunya ”Soekarno dan Perjuangan Kemerekaan” menjelaskan, pada tanggal 9 Juli 1942, setelah menempuh perjalanan hampir empat hari empat malam dengan menggunakan perahu motor akhirnya, Soekarno dan keluarga terdekatnya kembali ke pulau Jawa. Soekarno dan Hatta kembali bertemu setelah hampir sepuluh tahun lamanya mereka berdua terpisah karena pengasingan yang dilakukan kolonial Belanda terhadap mereka berdua. Sesampainya di Jakarta, Soekarno disambut oleh Hatta dan Sjahrir. Pada malam harinya Soekarno bertemu kembali dengan Hatta dan Sjahrir di kediaman Hatta. Dalam pertemuan tersebut, terjadi pembicaraan mengenai strategi dan cara-cara yang akan digunakan dalam melawan penjajahan Jepang.
Soekarno meminta kepada Hatta bahwa konflik dan pertentangan dimasa lalu (masa pergerakan) untuk sementara disingkirkan dahulu, karena menurut Soekarno tugas yang dihadapi sekarang jauh lebih penting dari pada masalah perbedaan-perbedaan individu diantara mereka. Kemudian permintaan dari Soekarno tersebut disetujui oleh Hatta. Cindy H. Adams (1982 : 101) dalam bukunya “Otobiografi Soekarno, Pejambung Lidah Rakjat” menjelaskan momen awal tebentuknya dwitunggal,

 “kami berjabat tangan dengan kesungguhan hati “inilah” janji kita sebagai Dwitunggal. Inilah sumpah kita yang jantan untuk bekerja berdampingan dan tidak akan berpecah hingga negeri ini mencapai kemerdekaan sepenuhnya”. 

Janji dari Soekarno dan Hatta tersebut disaksikan oleh Sutan Sjahrir yang waktu itu juga datang dalam pertemuan tersebut.  Pernyataan Soekarno dan Hatta itulah yang kemudian hari dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai Dwitunggal Soekarno-Hatta.
Kesepakatan kerjasama antar Soekarno dan Hatta dalam wadah Dwitunggal disaksikan oleh Sjahrir, satu-satunya tokoh yang ikut hadir dalam pertemuan. Selain kesepakatan kerjasama Soekarno dan Hatta, dalam pembicaraan tersebut juga menghasilkan cara-cara atau rencana-rencana gerakan untuk menghadapi Kolonial Jepang. Mereka setuju perjuangan yang akan dilakukan melalui dua cara, yang pertama yaitu dengan cara bekerja sama atau kooperasi dengan pihak Jepang yang diwakili oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta, dan yang kedua yaitu dengan cara gerakan “bawah tanah” yang akan dialakukan oleh Sjahrir.
Cara-cara dan rencana yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut sebenarnya ada sedikit perbedaan antara Soekarno dan Hatta mengengenai kerjasamanya dengan pihak Jepang. Wawan T. Alam (2003 : 144) dalam bukunya yang berjudul Demi Bangsaku, Pertentangan Soekarno vs Hatta mengungkapkan perbedaan tersebut. Menurut Soekarno ada beberapa alasan mengapa Soekarno mau bekerjasama dengan Jepang. Pertama, bahwa mereka mempunyai musuh yang sama yaitu Liberalisme, Kapitalisme, Imperialisme dan Individualisme yang merupakan semboyan dari dunia barat. Kedua, ada kesempatan untuk membangkitkan kesadaran rakyat. Ketiga, ada kesempatan untuk membentuk barisan persatuan yaitu dengan pembentukan PETA dan PUTERA, Keempat, ada kesempatan untuk melakukan Agitasi.
Disatu sisi Hatta berpendapat, seperti yang diungkapkan oleh Sjahrir bahwa tindakan kooperasinya atau kerjasama dengan Jepang itu lebih dikarenakan adanya Force Majeure (keadaan memaksa). Hatta selalu mengisyaratkan secara halus dalam setiap pidato-pidatonya selama pendudukan Jepang, bahwa ia sebenarnya dipaksa oleh orang-orang Jepang untuk bekerjasama. Selama masa itu, perhatiannya diabdikan kepada pekerjaan secara diam-diam untuk pergerakan (Bernhard Dahm, 1987 : 279). Alasan lain mengapa Soekarno-Hatta mau bekerja sama dengan Jepang adalah Soekarno dan Hatta percaya akan ketulusan Jepang untuk memberikan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia, seperti propagandanya sebelum Jepang melakukan penyerangan. Padahal kita tahu bahwa kedua tokoh tersebut terkenal dengan tokoh non-kooperasi pada masa kolonial Belanda.
Tindakan kerjasama Jepang dengan golongan nasionalis didasarkan karena Jepang melihat bahwa kaum nasionalis tersebut sangat berpengaruh kepada masyarkatnya, sehingga Jepang merasa perlu untuk mengadakan kerjasama demi memudahkan pegarahan rakyat untuk kepentingan perang Jepang. Kerjasama Jepang dengan nasionalis Indonesia dituangkan dalam bentuk organisasi diantaranya adalah Gerakan Tiga A, PETA, Poetera. Dalam organisasi-organisasi bentukan Jepang, Dwitunggal Soekarno-Hatta selalu mendapat jabatan penting sebagi contoh di organisasi Poetera Soekarno dan Hatta diangkat menjadi pemimpin tertinggi selain Ki Hadjar Dewantoro dan Kyai Haji Mas Mansjur yang kemudian dikenal dengan Empat Serangkai.
Pada Akhir perang Pasifik dan Memasuki awal tahun 1944, kedudukan Jepang dalam perang Pasifik semakin terdesak, Jepang mulai memberikan janji pada bangsa Indonesia berupa kemerdekaan. Hal ini dapat dilihat dari janji yang diberikan oleh perdana menteri Jepang Kaiso Kuniaki pada tanggal 19 September 1944. Pada tanggal 1 Maret 1945 dibentuklah BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha-usaha Pesiapan Kemerdekaan Indonesia ) atau Dokuritsu Zunbi Coosokai oleh Jenderal Keimakici Harada. Bung Karno dan Bung Hatta duduk dalam keanggotaan BPUPKI tersebut.
Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI di bubarkan dan diganti dengan PPKI (Panitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Inkai. PPKI diketuai oleh Ir Soekarno, wakil ketuanya adalah Moh Hatta dan penasehat Ahmad Subardjo. Tugas PPKI adalah menyusun rencana kemerdekaan Indonesia yang telah dihasilkan BPUPKI. Dalam keanggotaan dalam PPKI Bung Karno dan Bung Hatta bekerja sama dan mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang sudah ada sejak tahun 1930-an demi satu tujuan yang utama yaitu Indonesia yang merdeka.

PERANAN DOKTRIN MONROE, POLITIK LUAR NEGERI DAN KAITANNYA DENGAN TRADISI DEMOKRASI DI AMERIKA SERIKAT

Doktrin Monroe, sebenarnya dari nama seorang Presiden Amerika Serikat. Nama lengkapnya adalah James Monroe, Presiden Amerika Serikat yang ke-5 ( 1817-1825 ).
Ia dilahirkan pada tanggal 28 April 1758. Ketika berusia 18 tahun , ia turut berjuang dalam tentara revolusi Amerika. Namun keluar dari tentara setelah 4 tahun bertugas . Sewaktu belajar hukum , ia mengikat persahabatan dengan Thomas Jeffreson , yang ketika itu menjadi Gubernur negara bagian Virgina. Ikatan persahabatan itu menjadi erat dan berkat bimbingan Thomas Jefferson-lah James Monroe memasuki lapangan politik.
Sejak koloni-koloni Inggris berhasil mencapai kemerdekaan, Bangsa-bangsa Amerika Latin mulai memperjuangkan kemerdekaannya, Sebelum tahun 1821, Argentina dan Cili telah berhasil mencapai kemerdekaannya dan pada tahun 1822 , di bawah pimpinan Jose de San Martin dan Simon Bolivar , lain-lain Negara di Amerika Latin juga mendapatkan kebebasannya ( Gray,dkk : 80-81 ) .
Sejumlah kekuatan inti Eropa pada saat itu membentuk suatu Persekutuan Suci untuk melindungi diri sendiri  terhadap revolusi .Caranya adalah dengan mengadakan campur tangan dalam negara-negara dimana gerakan rakyat membahayakan tahta raja-raja .Kebijakan politik ini bertentangan prinsip penentuan nasib sendiri yang di anut Amerika Serikat .
James Moenroe diangkat mejadi presiden pada tahun 1817 . hasil yang terbesar dari pemerintahannya adalah kesuksesannya dalam pelaksanaan politik luar negeri. Sejak semula, Presiden James Moenroe sangat bersimpatik terhadap gerakan kemerdekaan di negara bagian jajahan Spanyol di Benua Amerika .Ia sebenarnnya ingin mengakui sesegera mungkin kemerdekaan negara-negara baru itu, tetapi ia menundanya agar perundingan- perundingan dengan Spanyol mengenai wilayah Florida jangan sampai gagal .Sesudah perundingan-perundingan itu berakhir dan Florida menjadi daerah   Amerika Serikat, ia segera bertindak dan mengakui negara- negara baru itu  .Ia bahkan mengambil tindakan lebih lanjut lagi. Ia menyusun naskah yang terkenal sebagai Doktrin Moenroe , yang menjadi salah satu naskah terpenting bagi Amerika dalam urusan politik luar negerinya dan sumber dari banyak tindakan berdasarkan prinsip yang tercantum dalam naskah itu .
PRINSIP-PRINSIP DOKTRIN MOENROE
Pada tanggal 2 Desember 1823, dihadapan Kongres, Monroe menyampaikan amanat tahunannya dimana beberapa bagiannya merupakan Doktrin Monroe : ( 1 ) berdasarkan keadaan bebas dan merdeka yang telah mereka perjuangkan dan pelihara , Benua-benua Amerika untuk selanjutnya tidak dapat dijadikan subyek guna kolonisasi di kemudian hari oleh negara Eropa manapun : ( 2) Sistim politik negara-negara persekutuan tadi secara hakiki sudah berbeda dengan sistem Amerika. Kita akan menganggap setiap usaha untuk merluaskan sistem ke bagian yang manapun dalam belahan bumi disini sebagai membahayakan perdamaian dan keamanan kita; ( 3) Kita tidak pernah ikut campur tangan dalam koloni atau wilayah kekuasaaan negara Eropa manapun yang telah ada : ( 4 ) Kita tidak pernah ikut campur, dan memang tidak sesuai dengan politik kita untuk berbuat begitu, dalam peperangan antara negara Eropa yang menyangkut urusan mereka sendiri ( Gray , dkk : 81 ) .
Ada dua hal yang patut disimak pada empat prinsip Doktrin Monroe, yaitu : pertama, kembali kepidato perpindahan George Washington, yang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan bersikap netral dalam konflik di Eropa; kedua : menyatakan bahwa sesudah ini, Amerika Serikat akan menganggap Amerika Utara dan Amerika Selatan  diluar batas penaklukan oleh Eropa ( Bradley , 1991 ; 20 ) di sisi lain Doktrin Monroe intinya adalah “Amerika for the Americans “ ( Hidayat mukmin 1981 : 193 ) ini berarti : ( 1  ) Politik isolasi, artinya dunia luar Amerika jangan mencampuri soal-soal dalam negeri Amerika dan sebaliknya Amerika jangan ikut-ikut dalam soal-soal di luar Amerika; (2) Pelopor Pan-Amerikanisme, artinya seluruh negara-negara di Amerika harus merupakan satu keluarga Bangsa Amerika dibawah pimpinan Amerika. Dalam tinjauan lain dikemukakan bahwa “Amerika for the Americans”, berarti orang Amerika jangan ikut-ikut dalam soal-soal di luar Amerika (berarti merupakan politik isolasi), Amerika for the Americans, berarti orang luar Amerika jangan ikut campur masalah intern Amerika (juga berarti menerapkan politik isolasi), Amerika for the Americans berarti supremasi atau imprealisme USA dalam Benua Amerika yang berujud dalam bentuk Pan_Amerika (Hidayat mukmin 1981 : 139).

TUJUAN DOKTRIN MONROE
Tujuan pokok Doktrin Monroe adalah mencegah Perancis atau Spanyol untuk meluaskan kembali kekuasaan kolonialisasinya atas kelas koloni Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan, serta mencegah Rusia untuk memperluas wilayahnya di Amerika Utara (Bradley, 1991 : 20). Pada waktu itu, meskipun bekas koloni Spanyol telah memperoleh kemerdekaanya, namun menurut Inggris dan Amerika Serikat sifat kemerdekaan itu yang dapat memungkinkan Spanyol dan Perancis kembali menjajah bekas-bekas koloninya. Ketika Inggris mengusulkan pernyataan bersama, akan tetapi menolak untuk mengakui republik-republik di Amerika Selatan, Monroe mengambil tindakan sepihak. Ini membuktikan bahwa Monroe sama sekali menginginkan kebebasan dari Negara Eropa manapun, ia sama sekali tidak menghendaki adanya campur tangan pihak luar dalam masalah-masalah intern (Utara, Selatan), meskipun di satu pihak Monroe menginginkan dominasi Amerika Serikat terhadap negara-negara Benua Amerika.
Pentingnya doktrin ini dari sudut sejarah telah diramalkan oleh Thomas Jefferson, ketika dimintai nasihatnya oleh Presiden Monroe pada tanggal 24 oktober 1823, ia mengatakan bahwa : “ Masalahnya … ialah yang paling penting pernah diberikan kepada saya untuk direnungkan sejak kemerdekaan. Itu yang menjadikan kita suatu bangsa. Ini menetapkan pedoman dan menunujukkan arah yang kita rintis dalam melintasi samudera waktu yang akan terbuka di hadapan kita … Garis kebijaksanaan kita yang pertama dan yang utama ialah, bahwa kita tidak akan pernah melibatkan diri dalam kancah pertikaian di Eropa, tidak  pernah membolehkan Eropa mencampuri (Sisi sebelah sisi) masalah Atlantik. Amerika, Utara dan Selatan, mempunyai seperempat kepentingan yang berbeda dengan kepentingan Eropa serta mempunyai cirinya sendiri. Oleh karena itu, Amerika harus mempunyai sistemnya sendiri, terpisah dan terlepas yang dimiliki Eropa. Selagi Eropa bekerja keras untuk menjadi domisili kelaliman (despotisme), usah kita tentu saja harus menjadikan belahan bumi kita domisili kebebasan” (Bradley, 1991 : 21).
Apa yang dipertaruhkan Amerika di tahun 1823 ?
Pertama, negara baru itu memerlukan waktu itu untuk mengembangkan lembaga-lembaganya yang membebaskan dirinya ketergantungan ekonomi dari Eropa, khususnya Inggris. Tidak ada pilihan lain kecuali politik netralistis. Kedua, pedagang Amerika ingin dapat memasuki (akses) pasar di Karibia dan Amerika Latin. Kolonialisme membatasi akses perdagangan ke negara induk. Republik-republik yang merdeka menawarkan pasar terbuka kepada pedagang yang banyak akal itu. Masalah ini sama penting untuk Inggris, sebab pada waktu itu kapal-kapal mereka menguasai lautan.
Doktrin Monroe menangani kedua masalah  ini. Doktrin ini memperkuat tekad Amerika untuk tetap menjauhi persekutuan yang menjerat dan menjelaskan politiknya terhadap diperkenalkannya kembali kolonialisme.
Tidak mengherankan, Doktrin Monroe itu mencoba nemadukan idealisme politik dengan kepentingan kapitalis (Bradley, 1991: 21). Selagi melindungi negara-negara yang baru merdeka dari Spanyol dan Perancis, Amerika Serikat memperoleh persamaan akses ke pasar Amerika Latin, dengan demikian menjadi saingan untuk para pedagang Yankee. Akan  tetapi, yang menarik keuntungan ialah orang Inggris bukan orang Amerika. Dengan pelayaran yang besar dan kuat di laut dan modal mereka di London, Inggris mampu memonopoli perdagangan di Amerika Serikat selama sisa abad ini.
Dengan pernyataan Monroe yang tegas, Amerika menjadi dewasa sebagai peserta dalam permainan politik kekuasaan. Dalam kurang dari setengah abad, Amerika Serikat telah memperoleh konsensi wilayah dari Inggris di perbatasan Kanada. Membeli wilayah Lousiania dari Napoleon dengan haraga murah (12 juta dollar) dan memaksa Spanyol untuk menyerahkam Florida hanya dengan harga 5 juta dollar. Doktrin Monroe memberikan kepada Amerika status sebagai Negara yang harus diperhitungkan.
PERANAN DOKTRIN MONROE DALAM PELAKSANAAN POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERMASUK DI AMERIKA LATIN
Bagaimana kedua prinsip Doktrin Monroe ini memperkenalan pelaksanaan hubungan luar negeri Amerika Serikat dalam salah satu setengah yang berikutnya ? Doktrin ini memberikam keabsahan kepada perasaan isolanis (mengasingkan diri) orang Amerika di adad ke-19, yang sudah berpaling dari Eropa dalam usaha mencari kekayaan dan kebebasan dari lingkungan dan dominasi Eropa. Negara ini sibuk dengan pertumbuhan kota-kota, perluasan wilayah, perkembangan industri, perbudakan, trauma sebelum dan sesudah Perang Saudara. Perhatian Amerika tidak dipusatkan ke Eropa, akan tetapi pada Amerika Tengah dan Karibia serta Pasifik.
Isolasionis ini mula-mula dipegang teguh oleh Amerika, Akan tetapi dengan adanya Perang Amerika-Spanyol (1898), pada hakekatnya Amerika telah melepaskan politik isolasi ini, karena berhasil menduduki Filipina (1898), yang berarti Amerika telah keluar dari Benua Amerika. Dengan ikutnya Amerika terang mulai melepaskan Doktrin Monroenya, tetapi tidak ikut sertanya Amerika Serikat dalam Gabungan Bangsa-bangsa, Doktrin Monroe masih lagi ingin dipertahankan. Partisipasi di pihak Sekutu dalam Perang Dunia I merupakan penyimpangan singkat dari norma, yang dipacu oleh serangan kapal selam Jerman atas kapal-kapal sipil. Tahun 1920-an dan 1930-an merupakan dasawarsa isolasionis dan terdapat perlawanan yang sangat sengit terhadap bantuan Lend-Lease Roosevelt kepada Inggris di Tahun 1940 (bantuan Piagam-sewa).
Baru didalam Perang Dunia II dan sesudah itu Amerika secara terang-terangan meninggalkn Doktrin Monroe. Serangan Jepang yang mengejutkan atas Pearl Harbour di Kepulauan Hawai (Panangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat), telah mengubah semua itu. Isolasionisme bukan lagi merupakan kedudukan yang dapat diterima oleh mayoritas rakyat Amerika. Sekiranya Manroe hidup kembali sekarang, ia mungkin akan terkejut dengan apa yang dilakukan prinsip Netralitas ini. Amerika Serikat mempunyai persekutuan yang tetap di Eropa dan seantero dunia bagaimana jaringan laba-laba yang nyata (Bradley, 1991 : 23). Hal ini mudah dilihat pada dominasi Amerika Serikat di berbagi lembaga Internasional seperti PBB, NATO, ANZUS dan OAS.
Khususnya di Amerika Latin, bagaimana dengan prinsip kedua Doktrin Monroe : memperingatkan kepada negara-negara Eropa supaya membiarkan Amerika dengan urusannya sendiri?Disini doktrin ini sudah direntangkan untuk memungkinkan Amerika Serikat menganggap dirinya sebagai penjaga para Negara tetangga di bagian Selatan. Mungkin ini tidak dielakkan, oleh karena perbedaan dalam kekuatan antara Utara dan Selatan.
Kebebasan intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin, Apakah dilakukan oleh perusahaan pemerintah atau swasta, sudah diperdebatkan sejak Perang Meksiko tahun 1848. Apa yang sangat mendukung kegiatan itu, sementara yang lain menentang dengan penuh gairah. Peragaan di depan umum tentang perbedaan politik merupakan perilaku yang biasa dalam penghidupan di Amerika, tidak peduli dengan bagaimanapun ketidakpastian hasilnya untuk Presiden maupun Kongres, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan, bahwa Presiden bertindak menurut keinginannya.
Doktrin Monroe tidak menegaskan dan tidak pula menyangkal hak Amerika Serikat untuk terlibat dalam negeri Amerika Latin. Beberapa Presiden menempuh politik yang agresif, terutama James Knox Polk, Presiden Amerika Serikat yang ke-28 (1913-1921) di meksiko, William McKinley, Presiden Amerika Serikat yang ke-25 (1897-1901) di Puerto Rico dan Kuba, serta Theodore Roosevelt, Presiden Amerika Serikat yang ke-26 (1901-1909) di Panama. Diantara Presiden yang belum lama beselang, James Earl Carter, Presiden yang ke-39 (1977-1981) adalah unik dalam usahanya untk menghormati integritas Negara-negara Amerika Latin, seperti yang diajukannya pada perundingan tentang Perjanjian Terusan Panama tahun 1977 (Lihat Dinas Penerangan Amerika Serikat Jakarta dan Bradley, 1991: 23).
TRADISI DEMOKRASI DI AMERIKA SERIKAT
Karakter Bangsa Amerika mulai terbentuk sejak kedatangan para koloni Inggris pada awal abad ke-17. Parsudi Suparlan dengan mengacu pada pendapat Luther S.Luedke menyatakan bahwa karakter Bangsa Amerika itu terbentuk dalam tiga tahap, yaitu : tahap pertama, karakter Amerika ditandai dengan adanya corak yang beraneka ragam dan majemuk, yang diselimuti oleh metafor “Melting plot”, seakan-akan keanekaragaman itu tidak terjadi atau hanya sementara saja dan semangat Puritan, serta impian kaya dalam hal materi….
Tahap kedua, karakter Bangsa Amerika ditandai oleh adanya ciri-ciri yang mencolok yang menekankan pada pentingnya konsep warga negara Amerika sebagi ciri utama dari orng Amerika. Konsep warga negara ini mencakup kesetiaan pada konstitusi Amerika, hokum-hukumnya dan patriotisme Amerika. Sedangkan pada tahap ketiga, yaitu yang berlaku sekarang ini, ciri-ciri kebudayaan dan karakter Bangsa Amerika berkaitan erat dengan sebagai kelanjutan dari tahap kedua, yaitu keterikatan pada Amerika secara hakiki dalm politik dan ediologi. Keterikatan ini menyangkut tanggung jawab dalam hal mendukung dan mempertahankan konstitusi dan system hukum Amerika Serikat yang berakar pada konsep keadilan, hak-hak individu, dan pemerintahan untuk rakyat dan oleh rakyat (Luedke, 1994 : Xi-XiV)
Karakter Bangsa Amerika ini besumber etika Serikat gabungan Bangsa-Bangsa, Doktrin Monroe masih lagi ingin dipertahankan. Partisipasi di pihak sekutu dalam Perang Dunia I merupakan penyimpangan singkat dari norma, yang dipacu oleh serangan kapal selam Jerman atas kapal-kapal sipil. Tahun 1920-an dan 1930-an merupakan dasawarsa isolanis, dan terdapat perlawanan yang sangat sengit terhadap bantuan Lend-Lease Roosevelt  kepada sejumlah nilai yang menjadi pegangan Bangsa Amerika, antara lain kemerdekaan, nasionalisme dan patriotisme, idealisme, dan perfeksionisme, moralitas dan perubahan, demokrasi dan lain-lain. Demokrasi, merupakan salah satu nilai yang dipegang oleh Bangsa Amerika sejak awal kedatangan mereka di koloni Amerika.
Sejak awal kedatangan. Sekiranya Manroe hidup kembali sekarang, ia mungkin akan terkejut dengan apa yang dilakukan prinsip Netralitas ini. Amerika Serikat mempunyai persekutuan yang tetap di Eropa dan seantero dunia bagaimana jaringan laba-laba yang nyata (Bradley, 1991 : 23). Hal ini mudah dilihat pada dominasi Amerika Serikat di berbagi lembaga Internasional seperti PBB, NATO, ANZUS dan OAS. Begitulah nasib yang menimpa negara adikuasa dan demikianlah taruhan politik.
Salah satu pendekatan baru yang digunakan untuk memahami karakter nasional adalah lewat analisa nilai-nilai yang mendasari perilaku orang-orang Amerika. Albert dan William menawarkan sejumlah nilai yang menjadi pegangan Bangsa Amerika, antara lain kemerdekaan, nasionalisme dan parriotisme, idealisme, dan perfeksionisme, moralitas dan perubahan, demokrasi dan lain-lain. Demokrasi, merupakan salah satu nilai yang dipegang oleh Bangsa Amerika sejak awal kedatangan mereka di koloni Amerika.
Sejak awal kedatangannya di Amerika Kaum Puritan sudah memimpikan adanya suatu kebebasan dalam menjalankan agamanya di daerah baru itu. Ini berarti sejak awal datangnya koloni di Amerika, kaum Puritan telah menjadi perintis kehidupan demokrasi dalam masyarakat Amerika. Nilai kehidupan demokrasi ini terus berkembang di Amerika Serikat sampai negeri itu merdeka dan terus pula berkembang sampai sekarang. Amerika Serikat sekarang ini merupakan salah satu negara yang paling demokratis di dunia. Amerika mengembangkan nilai-nilai demokrasi karena masyarakat Amerika terdiri dari berbagai macam bangsa dan beraneka ragam kebudayaan. Pluralisme etnis dan kebudayaan itu menurut pandangan Amerika hanya bias dikendalikan melalui consensus atau kesepakatan bersama. Kesepakatan itu tidak lain adalah bagian dari  budaya Amerika.
Kehidupan demokratis di Amerika tercermin antara lain dalam pemilihan yang sifatnya umum di tingkat nasional, baik yang diselenggarakan untuk memilih Presiden maupun anggota Senat. Tentunya juga dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Amerika.

DOKTRIN MONRE DAN TRADISI DEMOKRASI DI AMERIKA SERIKAT
Dalam satu segi, semua Presiden Amerika Serikat sejak Eisenhower, Presiden ke-34 (1961-1963), kembali kepada perhatian Monroe semula tentang intervensi Eropa di Amerika Latin, yakni yang bersangkutan dengan Revolusi Uni Soviet saat itu dengan paham Komintern, yang diterapkan sebagai bagian dari politik luar negerinya. Setiap pemerintah mencoba menangani bahaya ancaman yang tersimpul dalam agresi komunis di belahan bumi kita. Akan tetapi dalam hal ini sekali lagi rakyat Amerika terpecah dalam tanggapannya terhadap masalah ini. Ada yang menganggap Doktrin Monroe itu secara implisit melarang Amerika Serikat maupun negara-negara lain untuk mencampuri urusan negara-negara tetangga. Yang lain lagi berpendapat bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memperluas ciri demokrasi kita di belahan bumi ini. Yang lain beranggapan bahwa terlepas dari maksud Monroe, ancaman terhadap keamanan  kita adalah tidak berarti dan oleh karena itu kita tidak boleh intervensi.
Berbagai pandangan yang berbeda itu, akhirnya dimenangkan oleh anggapan bahwa Amerika Serikat mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memperluas ciri demokrasi tidak hanya di belahan bumi Amerika, melainkan ke luar itu. Sikap ini dibuktikan dengan pendudukannya atas Filipina (1898), keterlibatannya pada Perang Dunia I (1914-1918), Pendudukan Hawai(1894), pendudukan Guam, Midway dan Wake (1894), pemilikan hak tunggal atas terusan Panama (1914) (Hidayat mukmin 1981 : 149-150). Sejak akhir abad ke19 Amerika Serikat mulai meninggalkan Doktrin Monroe yang mana sikapnya memuncak awal abd ke-20 dengan keterlibatan Amerika dalam berbagai politik Internasional, khususnya dalam masa perang dingin.
Tradisi demokrasi di Amerika Serikat yang sudah ada sejak awal mulai terbentuknya Bangsa Amerika, Jelas terasa sulit untuk di lepaskan dari kehidupan Bangsa tersebut, termasuk pula dalam pelaksanaan politik luar negerinya.
Samapai saat ini Bangsa Amerika yang merupakan salah satu Bangsa terkuat di dunia selalu terlalu terlibat dalam berbagi kasus di berbagai belahan dunia manapun, terutama kasus-kasus yang berupa pelanggaran hak asasi manusia dan nilai-nilai demokrasi.

Kaitan antara Doktrin Monroe dengan tradisi demokrasi di Amerika Serikat dapat disimpulkan, antara lain: Pertama, bangsa Amerika selama satu setengah abad (tahun 1817- Perang Dunia II), memegang teguh Doktrin Monroe, karena pada masa tersebut Amerika sedang membangun Bangsanya dan ingin melepaskan diri dari pengaruh Negara-Negara Eropa. Kedua, Bangsa Amerika melepaskan dirinya dari Doktrin Monroe, karena doktrin tersebut pada hakekatnya tidak sesuai dengan tradisi demokrasi Amerika. Artinya doktrin tersebut menghalangi Bangsa Amerika untuk menyebarkan paham demokrasinya keberbagai penjuru dunia dan hanya terbatas di Benua Amerika saja.
Bagaimanapun juga Amerika Serikat sekarang ini adalah merupakan salah satu negara yang paling demokratis di dunia. Amerika Serikat telah menjadi pelopor dan teladan dari berbagai bangsa di dunia tentang bagaimana cara mengatur negara dan bangsanya prinsip-prinsip yang demokratis.
Amerika Serikat yang sekarang ini merupakan satu-satunya negara adi kuasa di duniaa, setelah hancurnya Uni Soviet, memiliki tanggung jawab dalam mempelopori pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara belahan dunia saat ini.